Natal Tu Buat Siapa Sih?? (Renungan Natal)

Hari Natal Kini Telah Tiba
Bergembira, Kita Semua
Bersukaria Bersama-sama
Puji Tuhan, Haleluya

Benar!!!
Natal datang kembali. Hampir di semua rumah orang kristiani pohon natal lengkap dengan perak-perniknya sudah berdiri di salah satu sudut rumah. Kue-kue natal beraneka rasa dan bentuknya telah tertata rapi di atas meja. Lagu-lagu Natal pun bergema merdu di mana-mana. Bahkan di pusat-pusat perbelanjaan pun suasana serupa tergambar jelas. Semua itu menjadi bukti bahwa Natal sudah tiba.

Namun, benarkah kehadiran Natal sungguh-sungguh memberi kegembiraan dan kesukaan bagi orang yang merayakan? Oh pasti!!! Natal Pasti memberi kegembiraan dan kesukaan, tapi khusus bagi yang mereka yang berduit.
Sedangkan bagi kaum ELIT (Ekonomi Sulit), Natal seringkali menjadi tekanan yang berat, bahkan menjadi kesedihan yang mendalam.

Mari kita buktikan keadaan itu!

Saat orang-orang berduit dapat membeli ini dan itu untuk menghias rumahnya; orang-orang tak berduit hanya dapat menelan ludah melihat pernak-pernik Natal karena ketidak mampuan memilikinya.

Saat orang-orang berduit dapat menikmati kue-kue natal; orang-orang tak berduit hanya dapat mengusap dada dan perut sambil menelan liur karena keinginan yang tak terpenuhi.

Saat orang-orang berduit dapat bersenandung lagu-lagu Natal dengan riang mengikuti irama di kaset; orang-orang tak berduit hanya dapat bersenandung lagu “Malam Kudus” versi Kidung Jemaat Sambil menangis dalam hati karena ketidak beradayaan.

Yang lebih parah lagi,

Saat orang-orang berduit dapat open house menerima tamu yang berdatangan bersilih ganti tanpa hentinya; orang-orang tak berduit hanya dapat duduk termanggu, karena tak ada tamu yang mengunjunginya…..

Sungguh memilikan suasana Natal yang demikian. Seolah Natal menciptakan jurang pemisah diantara mereka yang merayakananya.

Coba deh kita inget suasana Natal Pertama, ribuan tahun yang lalu. Ketika Sang Bayi Natal itu lahir, Allah menyampaikan berita sukacita itu kepada Para Majus dari Timur dan kepada Para Gembala di Padang. Mendengar berita itu, baik para Majus maupun para Gembala Bergegas untuk menjumpai Sang Bayi Natal itu. Saat mereka menemukan-Nya, mereka bersukacita bersama. Kesukacitaan mereka diwujudkan dalam ekspresi yang berbeda. Para Majus mengekspresikan sukacita mereka dengan pemberian emas, kemenyan dan mur. Sementara para Gembala mengekspresikan sukacita mereka dengan melanjutkan berita sukacita itu kepada banyak orang.

Nah Sebenernya dengan itu semua kita mau diingatkan bahwa DIA datang itu buat memberi kita semua kesukacitaan baik yang kaya ataupun yang miskin. Bagaimana kita mengekspresikannya ya disesuaikan dengan kemampuan kita. Apapun itu yang terpenting adalah kita merayakan kelahiran sang Juru Selamat.Jadi saat kita rayakan Natal, baik dengan Mewah ataupun Sederhana, yang penting semangat penyembahan kita kepada-Nya dan kesedian kita untuk melanjutkan berita Sukacita Natal itu bagi dunia, di mana pun kita ditempatkan.

Selamat Natal Dan Bersukacitalah !!!
(inspirasi : Matius 2:1,2,10 Lukas 2:15-20 dan goresan Pdt Deasy Wattimena)

Leave a comment